Tikus bukan lagi hewan yang dianggap menjijikkan. Sebagian orang telah menjadikan tikus sebagai hewan peliharaan yang disayang seluruh anggota keluarga, seperti halnya kucing ataupun anjing. Namun tampaknya memilih hewan peliharaan memang tidak bisa sembarangan.

Seperti halnya yang dialami bocah asal San Diego, AS ini. Menurut laporan tim dari Epidemic Intelligence Service, Centers for Disease Control and Prevention, kejadian nahas ini berlangsung pada bulan Agustus 2013 silam. Bocah ini meninggal secara tragis setelah terkena cakaran tikus peliharaannya sendiri.

Tim yang dipimpin Dr Jessica Adam menemukan bocah ini awalnya sehat-sehat saja. Akan tetapi secara mendadak, bocah yang tak disebutkan namanya itu mengalami demam tinggi, dengan suhu tubuh mencapai 39,2 derajat Celcius. Tubuhnya pun kaku, di samping gejala lain seperti muntah-muntah, sakit kepala hingga nyeri di kedua kakinya.

Dokter yang pertama kali memeriksanya mengatakan anak ini terkena infeksi akibat virus yang menyerang saluran pencernaannya. Namun 24 jam kemudian, pasien mulai memperlihatkan gejala muntah-muntah dan demam tinggi selama beberapa waktu. Ia juga terlihat linglung dan lemas sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Orang tuanya pun memanggil tim paramedis ke rumah. Sayang sesampainya tim ini, anak yang baru berumur 10 tahun itu sudah tidak bisa memberikan respons apapun. Walaupun sempat dilarikan ke ICU, nyawa bocah ini tak terselamatkan.

Dari hasil tes darah dan otopsi barulah terungkap bila ia meninggal karena infeksi Streptobacillus moniliformis, bakteri mematikan yang menyebabkan demam tinggi pada orang-orang yang terkena gigitan tikus.

“Bakteri ini ternyata bisa menular ke manusia lewat gigitan atau cakaran tikus, meskipun sangat jarang terjadi. Kira-kira 1 dari 10 gigitan itu bisa menimbulkan infeksi, apalagi sampai meninggal. Ini lebih langka lagi,” ungkap Dr Adam seperti dikutip dari jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report milik CDC, Senin (22/12/2014).

Setelah ditelusuri, Dr Adam dan timnya menemukan bila bocah ini mempunyai dua tikus peliharaan. Yang satu terbukti negatif mengandung bakteri S moniliformis, sedangkan satunya lagi dinyatakan positif. Dan dari hasil otopsi terbukti bila pasien memang pernah dicakar oleh salah satu dari dua tikus ini.

Belajar dari kasus ini, Dr Adam kemudian menekankan bahwa para dokter harus lebih waspada dengan adanya infeksi akibat gigitan hewan peliharaan. Apalagi bakteri S moniliformis bisa saja ditemukan pada segala jenis hewan peliharaan, termasuk yang liar sekalipun.

“Pengobatannya juga harus cepat, karena meskipun demam akibat gigitan tikus bisa diobati dengan antibiotik, tapi tingkat kefatalannya bisa mencapai 13 persen pada kasus-kasus yang dibiarkan. Lagipula infeksi bukan hanya terjadi akibat gigitan atau cakaran hewan, tapi juga bisa lewat makanan atau air yang telah terkontaminasi bakteri tersebut,” tegas Dr Adam.

Untuk pemilik hewan peliharaan, terutama tikus, Dr Adam juga meminta mereka untuk senantiasa mengenakan sarung tangan dan mencuci tangan mereka setelah memegang atau membersihkan kandang tikus. Kedua, hindari kontak langsung dengan kotoran tikus dan terakhir, segera konsultasikan dengan dokter bila terlihat gejala demam akibat gigitan hewan peliharaan, meskipun hanya karena memegang hewan tersebut.